Friday, December 14, 2012

KLIPOH, DESA PARA SENIMAN GERABAH



Desa Klipoh merupakan sentra pembuatan gerabah di Kabupaten Magelang. Tak heran jika sejak pagi anda dapat menyaksikan aktifitas warga yang sibuk memutar perbot yang berfungsi untuk membentuk tanah liat menjadi gerabah. Tiap rumah rata – rata juga memiliki gubug penuh dengan jerami yang dipakai untuk membakar gerabah setelah melalui proses penjemuran. Tak ada alat – alat modern, semuanya tradisional.

Di Workshop Gerabah Arum Art milik Bapak Supoyo, anda bisa belajar membuat gerabah dengan bermacam – macam bentuk seperti asbak, mangkok, ataupun miniatur candi. Walaupun terlihat mudah, ternyata membuat gerabah memang butuh tehnik khusus. Meski gagal bergaya luwes seperti Demi Moore di film ‘Ghost’, tapi tentu anda akan merasa bangga melihat gerabah buatan sendiri!

Tips : Setelah belajar membuat gerabah, berikan tip 10 – 15 ribu rupiah untuk pelatih anda. Jika anda menginap, gerabah bisa diambil di hari berikutnya tanpa perlu membayar lagi. Jika tidak, minta saja untuk dikirim ke alamat anda. Jangan lupa bayar biaya posnya, ya.

GERABAH ARUM ART
Desa Klipoh, Banjaran I, Borobudur
Tel : Bapak Supoyo (085927452946)

SUNRISE VIEW DARI PUNTHUK SETUMBU


Perbukitan Menoreh memiliki beberapa spot favorit bagi pecinta sunrise dan fotografi. Selain Puncak Suroloyo, Punthuk Setumbu juga bisa dijadikan pilihan. Menahan kantuk dan dingin, pukul empat pagi kami berangkat menuju Punthuk Setumbu. Bukit yang berada di desa Karangrejo hanya berjarak 2 km dari desa Bumisegoro.


Setelah memarkir kendaraan kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki melewati jalan setapak yang cukup terjal ke puncak bukit selama kurang lebih 25 menit. Saya jadi seperti salah kostum karena heboh dengan jaket tebal dan syal, yang ada sepanjang jalan mengeluh kepanasan, hehe. Sampai puncak, ternyata ada pasukan yang lebih dulu siap tempur, nih :)


Kami kurang beruntung pagi itu, cuaca mendung dan kabut cukup tebal. Namun tak ada penyesalan sama sekali saat cahaya matahari mulai muncul sedikit dari balik awan. Sebuah pemandangan spektakuler terhampar di depan mata. Candi Borobudur terlihat diantara rimbunnya pepohonan dan kabut. Resapi panorama itu, rasanya seperti masuk dalam mesin waktu dan mundur ke beberapa abad lalu. Truly magical!


Harusnya kami nih yang main film 5cm :(

foto oleh : Dony Alfan

Tips : Bawa air mineral,jas hujan jika datang di musim hujan [dan sebaiknya jangan datang pas musim hujan sih] dan jangan lupa memasukkan uang sekedarnya di kotak sumbangan ketika turun.

KAMPUNG HOMESTAY BUMISEGORO



Jika ingin puas mengeksplor desa – desa yang mengitari Candi Borobudur, alih – alih menginap di hotel, saya sarankan untuk menginap di Kampung Homestay Bumisegoro. Sejak tahun 2009, desa tua yang terletak di belakang kompleks Candi Borobudur ini masuk dalam desa tujuan wisata yang digulirkan Direktorat Pemberdayaan Masyarakat dan Desa lewat Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri.




Desa Bumisegoro tidak dapat dilepaskan dari sejarah Candi Borobudur. Di desa inilah H.C. Cornelius, seorang insinyur Belanda utusan Gubernur Jenderal Thomas Raffles pertama kali menemukan candi besar yang sebagian bangunannya terkubur di atas Bukit Borobudur. Sepanjang mata memandang, anda akan disuguhi hijaunya deretan Perbukitan, areal persawahan luas, para petani yang sibuk bekerja dan keindahan puncak stupa Candi Borobudur yang terlihat di sela – sela pepohonan rindang. 


Di desa ini terdapat sekitar 33 rumah yang dijadikan homestay. Tenang saja. Walaupun terkesan sederhana, namun rata – rata homestay terjaga kebersihan kamar mandi dan kamar tidurnya. Karena tinggal dalam satu rumah, anda wajib membaur dengan pemilik homestay. Saya bersama dua orang kawan asal Jakarta dan New York menginap di homestay Kemuning milik Bapak Munawir bersama istrinya yang begitu ramah menyambut kami. Seperti inilah suasana asli pedesaan yang tenang, hangat dan bersahabat.

Tips : Anda bisa minta tolong pemilik homestay untuk dicarikan sewa motor agar leluasa mengelilingi desa – desa tua di sekitar Bumisegoro. Biayanya cukup murah, hanya 25 – 30 ribu rupiah.

KAMPUNG HOMESTAY BUMISEGORO
Rate : 120 ribu – 150 ribu/malam. 1 kamar bisa diisi dua orang
Tel : Bapak Subkhan (083867619116)

Tuesday, November 20, 2012

FESTIVAL LOKANANTA



the ThiNK organizer bekerjasama dengan Perum PNRI Cabang Surakarta Lokananta menggagas sebuah event bernama FESTIVAL LOKANANTA yang akan berlangsung selama dua hari, 30 November – 1 Desember 2012.  Dengan 2 panggung musik yang akan menampilkan beberapa artis nasional dari beragam genre seperti Seringai, Homogenic, down for life, Orkes Keroncong Swastika, Samalona, dll.

Festival Lokananta juga akan ditunjang dengan beberapa kegiatan lainnya seperti workshop rekaman bekerjasama dengan 3dB dan Garasi Indie,  pemutaran film dokumenter musik dan film pendek bekerjasama dengan Liar Liar Film, pameran Fotografi bertema konser dan musik serta tidak ketinggalan beberapa booth penjualan merchandise musik dan alat musik.


DETAILS
FIELD STAGE
Lapangan Lokananta
Panggung outdoor skala besar dengan berbagai komunitas dan jenis aliran musik.
Talent                   : Seringai, Homogenic, Down For Life, dll

PARK STAGE
Taman Tengah Lokananta
Panggung skala kecil dengan musik keroncong dan akustik.
Talent                   : Orkes Swastika, Orkes Tirta Lawu, Accoustic band

RECORDING CLASS
Studio recording room Lokananta.
Workshop tentang recording music, “Bagaimana Recording Dengan Baik dan Benar”.
Talent                   : Lokananta, 3dB, Garasi Indie

MOVIE CLASS
Space room Lokananta.
Komunitas film yang memperkenalkan film-film musik, pendek dan indie dari berbagai daerah.
Talent                   : Edmond Waworuntu, Eric Soekamti, Bogalakon Pictures, Liar Liar

PAMERAN STAGE PHOTOGRAPHY
Space room Lokananta
Pameran fotografi panggung
Talent                   : Fotografer – fotografer Kota Solo

TIKET

Presale terusan (2 hari) : 25 ribu

Per hari 15 ribu

On spot per hari 20 ribu

Ingat, tiket presale dijual dalam jumlah terbatas jadi segera beli ya. 

Info: 085725191666, twitter : @belukarcult

Monday, November 19, 2012

Ikuti Pameran Foto Konser dan Musik di Festival Lokananta


Bagi pecinta fotografi yang memiliki stock foto konser atau yang bertemakan musik, yuk ikutan Pameran Foto Konser dan Musik yang menjadi bagian dari event Festival Lokananta. Acara yang akan menampilkan Seringai dan Homogenic ini akan digelar selama dua hari, Jumat 30 November - Sabtu 1 Desember 2012 (13.00 - Selesai) di Lokananta Studio Jl. A. Yani no 379 solo.

Nah, kalau kamu tertarik dan ingin berpartisipasi mengikuti pameran, coba simak tata caranya :



  • Membayar Rp. 25.000,- untuk 1 foto kategori cetak 12R atau Rp. 125.000,- untuk 1 foto kategori cetak 22R.
  • Peserta pameran maksimal mengumpulkan tiga file foto ( high resolution ).
  • Peserta yang mengikuti pameran foto akan mendapatkan
    ID card dan free masuk acara selama 2 hari.
  • Foto paling lambat diterima tanggal 25 November 2012.
  • Karya foto yang sudah di cetak akan di kembalikan setelah acara pameran selesai.

Info lebih lanjut, sila hubungi :

1. DhikyAditya : 085 - 641055081, Pin 3250fa80
2. Savi :085 - 647109996, Pin 324da4d2

Friday, November 9, 2012

GOT MILK? MOMMILK


Orang Solo hobi minum susu. Mau bukti? Selain warung susu Shi Jack yang cukup legendaris di kalangan pecinta susu segar, setahun belakangan ini Solo ramai dengan kehadiran kedai - kedai sehat yang menawarkan menu susu segar dengan varian rasa yang lebih ngepop. Salah satu yang mengawalinya adalah MomMilk, sebuah kedai susu yang bisa ditemukan di daerah Pabelan [UMS] dan Kota Barat. Kalau bingung dimana tempatnya, dari perempatan masjid Kota Barat, lurus saja lewat depan SD 15, nah kelihatan deh billboardnya. Cukup mudah ditemukan kok.


Banyak varian rasa yang ditawarkan di kedai susu ini, seperti Mom's Milk Jack Fruit, Caramel, Green Tea, Coffee yang disajikan dalam gelas berleher panjang untuk es susu, dan gelas ukuran sedang untuk susu hangat. Kalau mau, ada juga yang ukuran King Size. Gede! Ada juga makanan pendamping yang bisa dipesan mulai dari Mom's Kekian, Mini Pau, Spaghetti Gurita dan yang cukup recommended, Mom's Sampler [10 ribu] yang berisi french fries, sosis, nugget dan pangsit hangat.


Tiap malam, kedai susu ini ramai didominasi pengunjung yang rata - rata masih sekolah atau kuliah. Sebagai tempat seen and to be seen, bisa jadi. Alasan lain mengapa kedai ini ramai, mungkin karena letaknya yang pas berada di tengah kota, cukup memudahkan kalau mau janjian atau ketemuan sebelum berlanjut ke tempat lain.


Faktor lain, mungkin karena harganya yang cukup murah. Untuk menu susu segar reguler baik yang hot maupun cold, harganya berkisar antara 6500 - 8000. Ukuran King Size, bisa ditebus dengan harga 11500 - 14000. Sementara untuk makanan, harganya berkisar antara 6000 - 15000. Murah kan? Satu lagi, nunggu pesanan datang juga nggak terlalu lama. 

MOMMILK KOTA BARAT
Jl. Mawar no. 6 Mangkubumen Kulon
Twitter : @MOMMILK_SOLO

Tuesday, November 6, 2012

Jika Bukan Untukmu, Pikirkan Orang - Orang Yang Menyayangimu

Seumur hidup, baru sekali menyaksikan kecelakaan fatal dengan mata kepala sendiri. Kejadiannya siang tadi, seorang pengendara motor yang jaraknya sekitar 100m di depan saya tiba - tiba jatuh dan tubuhnya terseret beberapa puluh meter. Ngeri betul. Saya masih trauma hingga malam ini.

Teman - temanku, berhati - hatilah di jalanan. Lebih baik mengalah pada truk dan bus, mereka bukan lawanmu, apalagi kalau hanya menggunakan kendaraan roda dua. Sudah hati - hatipun, kadang ada orang bebal di jalan yang mencelakakan orang. Kalau sudah begitu, hati - hati tak cukup. Musti ekstra hati - hati! Jika bukan untukmu sendiri, pikirkan orang rumah yang menunggu. Pikirkan orang - orang yang menyayangimu. 

Ullen Sentalu, The Classy Museum


Hari Sabtu [3/11] kemarin akhirnya berkesempatan mengunjungi Museum Ullen Sentalu yang terletak di area wisata Kaliurang. Untuk mencapai museum ini cukup mudah, yang kamu butuhkan adalah kendaraan dan google maps.  Haha! 


Menarik sekali mengikuti tour sepanjang limapuluh menit yang dipandu oleh Mbak Rina. Nama Ullen Sentalu yang terdengar eksotis rupanya adalah singkatan dari bahasa Jawa yaitu, "Ulating Blencong Sejatine Tataraning Lumaku" yang artinya kira - kira "Nyala Lampu Blencong yang memberikan pelita dalam kehidupan manusia". Di dalamnya terdapat ratusan koleksi dari Kraton Yogyakarta, Pura Pakualaman, Kraton Kasunanan Solo dan Pura Mangkunegaran. 


Mbak Rina yang menjadi pemandu kelompok mengajak kami ke ruangan yang diberi nama Gua Selo Giri, dinamakan begitu karena bahan bangunan yang digunakan untuk ruangan ini menggunakan batu dari Gunung Merapi, yang puncaknya terletak tak jauh dari Museum ini, 4km saja kira - kira. Disini, ada koleksi gamelan keraton Yogyakarta yang biasanya dimainkan saat Jumenengan. Ada juga lukisan - lukisan yang menggambarkan anggota keraton sedang membawakan beberapa tarian seperti tari Topeng dan Golek Menak yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono XI.


Melewati koridor yang panjang, terpajang koleksi foto - foto hitam putih dari para anggota keluarga kerajaan dan aktifitas mereka sehari - hari di era tahun  '20 - '40an. Keren sekali!


Ruangan yang tak kalah keren adalah Kampung Kembang yang berdiri diatas kolam. Ruangan ini berisi puisi - puisi dari para sahabat untuk Tineke yang saat itu sedang patah hati karena kisah cintanya tak mendapatkan restu dari sang bunda, yaitu ibu Ageng. Tercatat puisi - puisi tersebut dibuat mulai dari tahun 1939 - 1949. Lama juga ya bok, galaunya? :)


Selain ruangan yang berisi koleksi - koleksi berharga, ada pula sebuah restauran dan hall yang digunakan anak - anak sekitar museum untuk berlatih tari tradisional.



Jika kamu hendak kesana, perhatikan jam buka museumnya. Ullen Sentalu libur pada hari Senin. Hari Selasa - Kamis, dibuka mulai pukul 08:30 - 16:00, Sementara untuk hari Sabtu - Minggu buka mulai pukul 08:30 - 17:00.



Harga tiket masuk untuk wisatawan domestik 25K [dewasa] dan 15K [5th - 16th]. Jika kamu bulay, harganya sedikit lebih mahal, 50K [dewasa] dan 25K [5th - 16th].Tiket tersebut sudah termasuk pemandu, jamu Ratu Mas yang katanya bisa bikin awet muda dan parkir gratis.


Selama tour, kita tidak diperbolehkan mengambil foto/video, membawa backpack [ada tempat penitipan], menyentuh koleksi yang dipajang dan makan/minum.  

Senang melihat sebuah museum dikelola dengan begitu profesional. Pengalaman yang didapat sepadan dengan harga yang dibayarkan. Jadi jika suatu hari kamu ke Kaliurang, jangan lupa mampir ya!

Museum Ullen Sentalu
Dalem Kaswargan Kaliurang
Ph : 0274 895161

Wednesday, October 31, 2012

Pukul Lima Hingga Lokananta Terselamatkan




Saya selalu percaya bahwa ketika kita memiliki niat baik, maka seluruh semesta akan berkonspirasi untuk mewujudkannya. Siapa sangka pembicaraan via whatsapp bisa mengumpulkan hampir 250 anak muda di dalam sebuah studio, tempat Gesang merekam karya masterpiece-nya. Ruangan yang siang harinya berhasil membuat saya flu saking dinginnya, makin malam berubah jadi luar biasa panas saking penuhnya. 




Dua hari lalu, 28 Oktober 2012 bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda, ratusan anak muda kembali ke ground zero musik Indonesia. Tempat disimpannya 45000an piringan hitam dan 5000an pita master yang menghubungkan kami dengan sejarah Indonesia di masa lalu. Yang kegiatannya  sempat mengalami hiatus dan bahkan ketika studionya sudah dibenahi keberadaannya seakan hidup segan, mati enggan. Ya, kami kembali ke Lokananta.


Pukul 18:30. Mas Bembi, salah satu karyawan Lokananta mengeluarkan sebuah vinyl dari bungkusnya yang sudah usang. Merinding rasa hati ketika mendengarkan suara Ir. Soekarno memproklamasikan Indonesia ini sebagai tanah yang merdeka lalu disambung lagu kebangsaan Indonesia Raya karya WR. Soepratman. Ya, kami berkesempatan untuk mendengarkan rekaman aslinya, karena kami kembali ke Lokananta.


Saya lantas mengundang mas Wendi Putranto dari Rolling Stone Indonesia untuk berbagi cerita tentang Lokananta, record label pertama di Indonesia yang namanya digagas oleh R. Maladi. Berdiri tahun 1956, tugas utama Lokananta kala itu adalah merekam lagu dan pidato - pidato penting dari Presiden Soekarno lalu diproduksi dalam format vinyl sebagai bahan siaran RRI (Radio Republik Indonesia). Banyak anak muda yang kaget ketika mengetahui bahwa tipe mixer yang terdapat di studio Lokananta hanya ada dua di dunia. Satu di BBC, satu lagi di Lokananta, kualitas rekamannya setara dengan studio Abbey Road!

Lokananta menyimpan rekaman - rekaman berharga. Tapi sayangnya karena kesulitan dana, pita master maupun piringan hitam yang disimpan disana mustahil untuk mendapatkan perawatan yang layak. AC dimatikan ketika karyawan pulang, padahal rekaman - rekaman itu harus berada dalam ruangan yang suhunya terjaga. Tak heran hampir 30 persen koleksi Lokananta kini rusak, lebih mengenaskan lagi karena banyak vinyl maupun pita master yang terpaksa dijual demi bisa menutup biaya operasional. Untunglah, Mas Bembi berhasil menyelamatkan ribuan rekaman fisik lewat proses digitalisasi. Dua setengah tahun, ia berhasil menyelesaikan hampir 95 persen dari sekitar 5000an master rekaman. 


Haru ketika tahu Sahabat Lokananta bukan hanya berasal dari Solo, tapi ada yang jauh - jauh datang dari Purwokerto, Magelang, Jogja dan Semarang. Bahagia ketika tahu mereka bukan cuma mendengarkan cerita, tapi juga berbagi ide dan masukan demi kebaikan Lokananta di kemudian hari. Senang  ketika anak muda yang awalnya hanya mendengar cerita atau bahkan tak peduli pada Lokananta akhirnya mendeklarasikan dua hal, akan mencintai musik Indonesia dari titik nol dan tak akan meninggalkan Lokananta. Berkaca - kaca ketika banyak anak muda yang antusias bukan hanya pada White Shoes and The Couples Company, tapi juga memberikan apresiasi yang luar biasa ketika musisi tua berusia 86 tahun begitu prigel mengiringi mbak Endah Laras menyanyikan lagu - lagu keroncong.



Lalu apa lagi setelah ini? Ayo kembali ke Lokananta! Tak perlu menunggu orang lain memulai karena saya, kamu, kita semua bisa berpartisipasi melakukan banyak hal agar Lokananta terselamatkan. Muluk - muluk? Mungkin. Tapi lebih baik muluk - muluk daripada apatis tak melakukan apa - apa.

Angkat topi untuk semua yang bekerja keras mewujudkan hal kecil yang semoga membawa perubahan besar suatu hari nanti. Pihak Lokananta yang  menyambut acara sederhana ini dengan tahan terbuka, Bapak Pendi, Mas Andi, Mas Bemby, Ibu Titik. Intan Anggita, Wendi Putranto, Stephanus Adjie, Mbak Endah Laras, seniwati bersuara dan berhati emas dan teman - teman yang begitu dermawan meluangkan waktu dan tenaganya membersihkan ruangan, mengangkat gamelan, melancarkan jalannya Sahabat Lokananta hari itu. You know who you are!

Selamat ulang tahun Lokananta, kami tak akan meninggalkanmu.

Friday, October 5, 2012

FINALLY, PEOPLE POWER BRING DIAMONDS RAIN ACROSS JAKARTA!

Jum'at 12 November 2010, jam 3 sore.


Deftones will be playing headline shows throughout the Pacific Rim this upcoming February immediately following Big Day Out. The first stop is Jakarta, Indonesia at the Tennis Indoor Senayan on 2/8.

Berkali - kali saya baca posting itu, memastikan bahwa saya tidak sedang bermimpi. Om Adrie Subono membohongi kami saat Jum'at pagi mengatakan band Eropa yang akan diundangnya. Saya sampai bingung harus bereaksi seperti apa. Tujuh bulan kami berjuang meyakinkan Java Musikindo dan Velvet Hammer kalau membawa Deftones ke Jakarta bukan pilihan yang salah. 

Dan saya memang tidak sedang bermimpi. Setelah Deftones memposting pengumuman itu, Om Adrie juga mengumumkan hal yang sama. Tak terkira bahagianya hati ini! Perasaan yang sama persis saya rasakan saat tahun sebelumnya 311 confirmed untuk tampil di Jakarta. We make it happen, again!!


Segera saya menulis sesuatu untuk Om Adrie Subono.

Dan dia menjawab begini
Hahaha! Leganyaaaa! Ya sekarang bayangin aja, direcokin dengan tweetbomb setiap hari, selama tujuh bulan! Apa nggak pengen segera report as spam dan pencet tombol block biar kami nggak ngerecokin beliau lagi untuk selama - lamanya?

Lalu suatu hari sebuah tweet datang dari orang yang bikin saya percaya bahwa Deftones akan bermain di Indonesia. Pnut ternyata membaca jadwal konser yang saya retweet dari Java Musikindo.

Saya benar - benar menaruh hormat pada orang ini. Pnut adalah penikmat karya Deftones yang ditahun 90an membuka konser bagi bandnya, 311. Berkali - kali dia memuji Deftones, mendoakan Chi Cheng, menyemangati kami agar berhasil dan tak lupa memberi gambaran seperti apa konser itu nantinya.

Sergio Vega juga mengungkapkan ketidaksabarannya untuk segera tampil di Indonesia

People power. You can never beat it! Mimpi para Deftones Warriors dari sebuah negara ketiga akhirnya menjadi kenyataan.

8 Februari 2011, detak jantung saya serasa dua kali lebih cepat daripada biasanya. This is it! Show time! Deftones menghajar kami dengan 24 lagu hampir tanpa jeda, kecuali saat Chino menyapa penggemarnya sambil mengangkat botol bir Bintang. "I love Binteeng" katanya. :) 



Dibuka dengan lagu Birthmark dan ditutup dengan encore Root dan 7 Words, kami semua berakhir sama; keringetan, suara serak, bahagia.


 Kebahagiaan saya bertambah karena membawa souvenir berharga ini :)